Skip to main content

Novel "Diary Pramugari" Karya Agung Webe

Judul: Diary Pramugari
Penulis: Agung Webe
Penerbit: Pohon Cahaya, 2011
Isi: 352 halaman
ISBN: 978-602-97133-3-6
Novel yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang Jingga, bukan nama sebenarnya. Jingga adalah seorang pramugari asal Solo. Trauma masa lalu membuat Jingga membenci laki-laki. Jingga menganggap semua laki-laki hanya menginginkan tubuh wanita saja.Namun pandangan Jingga mulai berubah ketika bertemu dan mengenal Alvin, seorang pramugara senior.

Cerita selengkapnya bisa Anda baca dalam novel "Diary Pramugari" karya Agung Webe yang diterbitkan oleh Penerbit & Percetakan Pohon Cahaya.

Harga: Rp. 45.000, - (belum termasuk ongkos kirim. Harga ongkos kirim tergantung alamat pengiriman dan jenis pengiriman yang dipilih, biasa/regular/kilat).

HUBUNGI: Willy (081578720934)

Comments

Popular posts from this blog

Pengendara di Bawah Umur

Anak tetangga yang sudah jago nyemplak motor sejak masih SD. Dok. Pri. Tabrakan, Lima Tewas, Anak Ahmad Dhani Patah Tulang TRIBUNnews.com  –  Min, 8 Sep 2013 Salah seorang anak musisi Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani, mengalami tabrakan di Tol Jagorawi mengarah ke Pondok Indah. Dul--sapaan karib Abdul Qadir Jaelani--mengalami luka dan patah tulang. Mobil yang dikendarai Dul menabrak dua mobil lainnya di Kilometer 8, Minggu (8/9/2013) sekitar pukul 00.45 WIB. Dul merupakan satu dari 11 korban luka dalam kecelakaan tersebut. Sedangkan lima lainnya tewas. Dul kini dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. “Dul sehabis mengantar pacarnya dari Cibubur, pulang ke Pondok Indah. Dia mengalami patah tulang kaki, dan sedikit trauma,” kata Ahmad Dhani di RS Pondok Indah. Ada tiga kendaraan yang terlibat kecelakaan maut tersebut yakni Lancer B 805 AL, Granmax B 1349 TFN dan Avanza B 1882 UZJ. Kabar kecelakaan anak bungsu Ahmad Dhani itu langsung jadi be...

Mata Angin

Arah mata angin menurut budaya Batak. (Sumber: habatakon01.blogspot.com) “Barat itu mana ya?” tanya seorang teman ketika saya memberi ancer-ancer sebuah lokasi yang akan dicarinya. “Barat itu arah yang menjadi letak matahari terbenam,” terang saya. Begitulah salah satu pengalaman saya ketika berjumpa dengan seseorang yang buta terhadap arah mata angin. Biasanya, tanpa bermaksud menyinggung, orang-orang yang tidak paham arah mata angin tidak tumbuh di lingkungan budaya Jawa. Di lingkungan budaya Jawa, masyarakat sudah terbiasa menyebut mata angin sebagai penunjuk arah. Di Amerika pun sepertinya demikian. Sebab ketika menonton sebuah film, kadang terselip ucapan dari salah satu karakter dalam film itu yang mengatakan akan pergi ke utara, misalnya. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan arah mata angin biasanya hanya mengatakan kanan atau kiri untuk menunjukkan posisi atau lokasi. Seperti ketika saya berada di Jakarta, ketika saya bertanya kepada seseorang, ia hanya memberi informasi...