Skip to main content

Novel "Diary Pramugari" Karya Agung Webe

Judul: Diary Pramugari
Penulis: Agung Webe
Penerbit: Pohon Cahaya, 2011
Isi: 352 halaman
ISBN: 978-602-97133-3-6
Novel yang diangkat dari kisah nyata ini bercerita tentang Jingga, bukan nama sebenarnya. Jingga adalah seorang pramugari asal Solo. Trauma masa lalu membuat Jingga membenci laki-laki. Jingga menganggap semua laki-laki hanya menginginkan tubuh wanita saja.Namun pandangan Jingga mulai berubah ketika bertemu dan mengenal Alvin, seorang pramugara senior.

Cerita selengkapnya bisa Anda baca dalam novel "Diary Pramugari" karya Agung Webe yang diterbitkan oleh Penerbit & Percetakan Pohon Cahaya.

Harga: Rp. 45.000, - (belum termasuk ongkos kirim. Harga ongkos kirim tergantung alamat pengiriman dan jenis pengiriman yang dipilih, biasa/regular/kilat).

HUBUNGI: Willy (081578720934)

Comments

Popular posts from this blog

Mata Angin

Arah mata angin menurut budaya Batak. (Sumber: habatakon01.blogspot.com) “Barat itu mana ya?” tanya seorang teman ketika saya memberi ancer-ancer sebuah lokasi yang akan dicarinya. “Barat itu arah yang menjadi letak matahari terbenam,” terang saya. Begitulah salah satu pengalaman saya ketika berjumpa dengan seseorang yang buta terhadap arah mata angin. Biasanya, tanpa bermaksud menyinggung, orang-orang yang tidak paham arah mata angin tidak tumbuh di lingkungan budaya Jawa. Di lingkungan budaya Jawa, masyarakat sudah terbiasa menyebut mata angin sebagai penunjuk arah. Di Amerika pun sepertinya demikian. Sebab ketika menonton sebuah film, kadang terselip ucapan dari salah satu karakter dalam film itu yang mengatakan akan pergi ke utara, misalnya. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan arah mata angin biasanya hanya mengatakan kanan atau kiri untuk menunjukkan posisi atau lokasi. Seperti ketika saya berada di Jakarta, ketika saya bertanya kepada seseorang, ia hanya memberi informasi...

Harga Sebutir Nasi

Saya selalu merasa bersalah setiap kali saya sengaja atau tidak sengaja membuang makanan. Ada perasaan berdosa di dalam hati bila hal itu saya lakukan. Saya tidak pernah tahu, mengapa hati saya sebegitu sensitif tentang hal ini. Beberapa kali saya menegur istri karena membuang bahan sayur yang sudah layu atau busuk karena belum sempat dimasak setelah kemarin dibelinya. Istri saya selalu bilang, “Kalau kita punya kulkas, ya nggak akan terbuang percuma.” Ya, maklum, sebagai pasangan yang baru membangun rumah tangga, perabot kami masih minim. Kulkas pun belum punya. Selain itu, saya juga tidak bisa menyalahkannya. Ia memang tidak sempat memasak karena lelah seharian mengasuh si kecil. Itu kasus di rumah. Di tempat lain, misalnya di kondangan, saya pernah menemukan teladan yang tidak baik dari seseorang yang waktu itu dianggap sebagai sesepuh di desanya. Kebetulan beliau duduk di depan saya dan dalam acara resepsi pernikahan itu beliau didaulat mengisi ceramah, memberi wejangan ke...